GFAMZ

GAJE FAMILY GAJE FAMILY GAJE FAMILY GAJE FAMILY GAJE FAMILY GAJE FAMILY GAJE FAMILY GAJE FAMILY

Senin, 02 Agustus 2010

VicTedd (BonTeng)

Sore itu di Shell Cottage seorang gadis sedang merenung dikamarnya…
“Apakah aku bisa bertemu lagi dengan dia setelah perjodohan ini?” gadis itu berbicara sendiri, kemudian mengambil foto seseorang yang sedang mengenakan seragam Quidditch Gryffindor.
“Oh, Teddy aku sangat merindukanmu….” Ucap sang gadis menatap foto bergerak itu.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka dan seorang wanita yang sangat cantik masuk.
“Vic, ayo pergi.” Ucap wanita itu yang tak lain adalah ibunya, dan dengan enggan si gadis yang dipanggil ‘vic’ itu menuruti ibunya.
“Iya Mom. Tunggu sebentar, aku bersiap dulu.” Sang gadis mencium foto pemuda berseragam Quidditch yang sedang tersenyum gembira itu, lalu memasukan foto itu ke dalam tasnya dan keluar dari kamarnya mengikuti panggilan ibunya.
***
“Mom apakah aku harus pergi sekarang?” gadis itu bertanya kepada ibunya yang sedang mengepak koper di ruang keluarga.
“Harus sayang, grandma akan sangat marah kalau kamu tidak datang dan mengikuti.. ehm mengikuti permintaannya.” Kata Fleur dengan sedikit logat Perancis.
“Tapi Mom, aku tidak mau dijodohkan. Jaman sekarang sudah berbeda Mom. Lagian aku kan ga sepenuhnya berdarah-murni. Apakah dahulu grandma menjodohkan Mom dengan dengan Dad? Tidak kan? Cinta kalian bertemu sendirinya tanpa harus dijodohkan Grandma.” Protes Victoire.
“Mom tahu. Mom mengerti perasaan kamu. Mom juga ga mau kamu dijodohkan dengan pemuda perancis itu. Tapi mau digimanakan lagi?”
Tiba-tiba pintu depan terbuka dan pria dengan banyak bekas luka cakaran masuk ke dalam rumah.
“Dad” ratapnya kepada ayahnya. “Aku tidak mau pergi. Aku sudah punya pilihan sendiri Dad, aku mencintai Teddy. Dan aku tidak mau dijodohkan dengan orang pilihan Grandma.”
“Sayang, Dad dan Mom tahu bagaimana perasaan kamu?” kata ayahnya tenang sambil menghampiri anak gadisnya itu dan menatap dua mata coklatnya dalam-dalam. “Tapi bukan salahnya kamu bertemu dahulu dengan anak itu, hanya untuk berkenalan. Nanti kalau grandma tetap memaksa menjodohkan kamu dengannya, Dad dan Mom akan membantu kamu untuk menolak perjodohan itu.”
Victoire terdiam. Lalu terdengar suara pop kecil dari kejauhan, tak lama kemudian seorang wanita tua namun masih tetap cantik masuk.
“Kalian ini, sudah ditunggu dari tadi. Kenapa kalian belum pergi juga?” bentak wanita tua itu, kecantikan setengah Veelanya tampak hilang karena biasanya dia bersikap sangat lemah lembut.
Bill dan Fleur terdiam. Namun Victoire berbicara dengan lantangnya.
“Grandma aku tidak mau pergi.” Kata Victoire,
“Untuk alasan apa kamu tidak mau? Grandma sudah berjanji kepada mereka, kalau kau akan dijodohkan dengan putra satu-satunya dari keluarga mereka.”
“Kalau begitu batalkan saja janji itu Grandma. Aku tidak mau, aku sudah punya pilihan. Aku tidak akan menikah dengan siapapun kecuali Teddy.”
“Tidak bisa. Ini yang terbaik bagimu. Pemuda itu sangat berkualitas. Keluarganya sangat terpandang. Untuk apa kamu memilih anak aneh itu kalau masih ada yang lain? Dia anak manusia-serigala.”
“TAPI DIA BUKAN MANUSIA-SERIGALA.” Bentaknya, dan neneknya terlonjak kaget. “Dia tidak aneh dan dia bukan manusia serigala. Aku mencintainya dan dia juga mencintai aku, Grandma.” Dan tanpa terasa air matanya menetes jatuh ke pipinya, dirinya masih tetap cantik walaupun sedang menangis.
“Kamu harus tetap menikahi pemuda yang sudah Grandma pilihkan!” bentak sang nenek.
“Mama, Mama jangan paksa dia. Biarkan dia memilih jalan hidupnya.” Potong Fleur.
“Tahu apa kau tentang mendidik anak yang benar? Kau tidak pernah tahu apa-apa soal rumah tangga.”
“Aku tau, Ma. Aku tau. Karena aku belajar yang baik dari mama. Jangan paksa dia ma. Biarkan dia sendiri memilih jalan hidupnya.”
“Dia masih terlalu muda untuk bisa memilih jalan yang benar atau yang salah.”
“Aku sudah akil balig. Aku sudah dewasa Grandma.” Kata Victoire
“Ma, biarkan dia memilih jalan yang dia mau. Aku ayahnya, aku tahu sifatnya dan aku juga tahu apa yang terbaik untuk dirinya.” Kata Bill tegas, mengatasi segala keributan ini.
“Tidak bisa. Victoire harus tetap ikut Grandma.” Kata Madame Delacour sambil menarik tangan cucunya dan bersiap-siap ber-Apparate.
“PROTEGO!!” ucap Bill sambil mengacungkan tongkatnya ke arah anak dan mertuanya itu. “Maaf Ma, tapi aku tahu apa yang terbaik untuk anakku.” katanya. “ Vic, pergi sekarang!” tambahnya kepada anak perempuannya itu.
Victoire pergi berlari keluar rumah tanpa memikirkan apa yang akan terjadi sesudahnya, rambut pirangnya panjang terurainya berkibar dikepalanya.
Victoire menghampiri adik-adiknya, Dominique dan Loius yang sedang bermain dengan para jembalang yang dibawa langsung dari the burrow.
“Vic mau kemana?” Tanya Dominique.
“Pergi sejauh mungkin dari grandma Delacour, kamu tahu kan. Vic tidak mau dijodohkan dengan pria perancis itu. Vic mau menikah hanya dengan Teddy.”
“Aku tahu. Tapi Vic jangan lupa kabarin kami ya. Kami merindukanmu Vic.”
“Selalu. Aku akan menulis untuk kalian. Tapi jangan sampai ketahuan Grandma Delacour ya. Sepertinya Vic akan ke rumah paman Harry. Kau tahu kan? Semenjak nenek Andromeda, neneknya Teddy meninggal, sekarang Teddy tinggal di Grimmauld Place. Dan aku akan menemui Ted.”
Dominque mengangguk.
“Hati-hati kakak cantik.” Kata Louis yang masih sangat polos.
“Ya sayang. Goodbye.” Kata Vic sambil mencium kening kedua adik tersayangnya, dan ber-Apparate ke Grimmauld Place.
***
Vic berlari meninggalkan shell cottage, lalu berapparate ke Grimmauld Place.
-Grimmauld Place no.12. Vic memandang berkeliling. Sepi. Kemudian pintu terbuka. Seorang wanita berambut merah menyala nampak agak kaget.
"Vic?"
"Ginny!!!" Vic memeluk wanita itu.
"Vic ada apa? Kau kenapa? Oh....ayo masuk"
"Mum, siapa yang da.......? Vic??"
"Lily, kau masuk dulu. Mum mau bicara dengan Vic." Lily menurut.
"Ceritalah. Ada apa?" Tanya Ginny.
"Teddy mana?"
"Teddy pergi dengan Harry sejam yang lalu."
"Ginny, kau tahu kan tentang perjodohan aku dengan pria prancis itu?"
"Ya, lalu? Kau tidak....."
"Tidak Ginny, aku sama sekali tidak setuju. Tadi Grandma memaksa ku pergi dengannya tapi aku menolak. Lalu mum dan dad menyuruhku pergi. Ginny aku tidak mungkin menikah dengan pria itu, aku sangat mencintai Teddy." Cerita Vic panjang lebar.
"Iya aku mengerti Vic. Tenanglah, grandma tidak tahu kau kesini kan?"
"Tidak, hanya Luise dan Domonique yang tahu."
"Ya sudah kau istirahat dulu disini. Aku akan membuatkan cokelat panas untukmu."
"Thanks Ginny!"
Setelah Ginny meninggalkan kamar, vic merenung. Dipikirannya hanya ada Teddy.Teddy Remus Lupin
***
Tes tes tes. Air mata victoire jatuh diatas liontin berlambang sebelah hati dan terukir huruf T yang berarti “Teddy”. Teddy pun memiliki sebelah hatinya dengan lambang V yang berarti “Victoire”.
“Apa hati ini bisa bersatu Ted?” tanyanya kepada Teddy yang duduk disebelahnya. Semenjak Teddy pulang tadi, Ia langsung menghapiri Vic di kamar tamu. “Aku tidak mau menikah dengan pria itu. Satu-satunya pria yang akan kunikahi hanyalah kau Ted. Tapi aku tidak mau menyakiti hati Grandma.”
Diam sejenak. Teddy tidak menjawab. Vic menatapnya,
“Pasti sayang. Hati kita akan bersatu. Aku akan mencoba meluluhkan grandma. Besok aku akan ke Prancis untuk menghampiri nenekmu dan jika perlu aku akan melamar kau besok.” Ucap Teddy tanpa keraguan.
“Oh, jangan. Grandma nanti akan sangat marah kepadamu, dan pasti dia akan tambah memaksa aku untuk menikah dengan pria pilihannya.”
“Tidak apa-apa sayang. Aku pasti bisa.”
Vic ragu.
“Apa yang akan terjadi besok Teddy? Kalau kita kesana tapi grandma masih tetap memaksaku, bagaimana?”
“Besok, besok grandma akan membatalkan rencana perjodohan kamu dengan pria pilihannya. Dan mengizinkanmu menikah denganku. Akan ku perjuangkan semuanya untukmu. Aku berjanji.”
“Ted, bagaimana kalau kita gunakan sihir saja? Confundus atau imperius sedikit saja. Aku bisa melakukannya.”
“Tidak Vic sayang. Aku tidak mau menggunakan sihir apapun.”
“Tapi Ted, bagaimana kalau grandma tetap tidak bisa merestui kita? Aku takut Teddy.”
“Tidak sayang. Grandma pasti luluh kali ini.” Ucap Teddy meyakinkan.
Mereka saling pandang lama sekali. Victoire memandang Teddy dengan pandangan penuh terimakasih. Teddy mencium kening victoire.
“Thanks Teddy. I love You.”
***
Keesokan harinya mereka makan pagi bersama di dapur bersama Harry, Ginny, James, Albus dan Lily. Kreacher telah membuatkan sandwich daging dengan bumbu khas keluarga Black.
“Tuan, sandwich daging untuk tuan dan keluarga sudah siap. Kreacher bisa membuat pudding coklat untuk penutupnya dan jus labu sebagai minumannya.” Suara katak betung Kreacher berbicara kepada Harry. Kreacher sudah sangat tua. Tampak dari tubuhnya yang semakin ringkih. Namun, ia masih tetap setia kepada Harry karena dia tuannya.
“Terima kasih Kreacher.” Ucap Harry.
Mereka semua makan dalam kesunyian. Hanya terdengar suara orang mengunyah saja tanpa percakapan biasanya.
“Harry, aku dan Vic pamit.” Ucap Teddy setelah semua makanan habis.
“Kalian mau kemana?” kata Ginny.
“Ke Prancis, aku akan berbicara kepada nenek Vic tentang masalah kita. Aku akan menyelesaikan semuanya.”
“Masalah apa sih?” Tanya Lily polos.
“Oh, nanti kau juga tahu sayang.” Kata Vic kepada Lily yang penasaran.
“Kalau begitu hati-hati ya. Kau ingat Teddy, kau punya janji kepadaku, Albus dan Lily. Jangan sampai lupa.” Kata James.
“Janji apa sih?” kata Teddy pura-pura lupa. “Rasanya aku tidak punya janji kepada kalian.”
“Ya ampun masa kau lupa sih Ted? Kau sudah janji kepada kami untuk membawa kami ke Diagon Alley, kami ingin ke Weasley Wizard Wheezes, kata Hugo paman George punya barang lelucon baru. Mum dan Dad selalu sibuk sih, jadi kami tidak bisa pergi bersama.” Ucap Albus panjang.
Harry dan Ginny nyengir, saling pandang. Harry mengacak-acak rambut Albus.
“Ya sudah, nanti akan ku ajak kalian semua, kalau perlu segala yang kalian beli akan kubayar dengan uangku. Aku berjanji, tapi nanti setelah aku pulang ya.” Kata Teddy. “Kami pergi. Goodbye”
Vic mencium kening ketiga sepupunya lalu keluar rumah, Teddy sudah menunggu di halaman berumput untuk Apparate langsung ke rumah nenek Vic di Prancis.
“Siap?” Teddy menannyai Victoire.
Vic menarik nafas panjang lalu mengangguk.
“Semoga perjuangan kita berhasil.”
“Semoga.” Ulang Vic.
Mereka berpegangan tangan untuk berapparate bersama.
“Satu Dua Tiga.” Aba-aba dari Teddy.
Mereka menarik nafas dalam lalu terperangkap dalam kegelapan yang menyesakkan.
***
Victoire terhuyung jatuh ketika kakinya menapak ke tanah yang keras. Teddy di sebelahnya menahan tubuh Vic.
"Teddy....."
"Ya?"
"Ini bukan Prancis....."
"Apa?"
"Ini masih di Inggris." Kata Vic tercekat.
"Apparate kita gagal, maaf aku kurang berkonsentrasi." Lanjut vic. Teddy menatap sekelilingnya.
"Ya, ini memang buka Prancis." Gumam Teddy
"Maafkan aku Ted, untung kita tidak spliching tadi."
"Sudahlah. Sekarang kita cari tahu kita ada dimana. Kita tersesat Vic."
Mereka berdua mencari tahu tempat mereka berada sekarang. Tempat itu sangan sepi.
"Ted, kita teruskan saja berapparate lagi." Kata Vic.
"Tidak sekarang, kau harus menenangkan diri dulu. Atau kalau ada kendaraan muggle disini yang menuju Prancis kita bisa naik."
"Kendaraan muggle? Kau punya uang muggle untuk membayarnya?" Vic heran.
"Ada, aku dapat dari Harry." Teddy tersenyum.
"Kalau begitu kita cari bus saja Ted."
"Bus? Bus........" Spontan Ted melambaikan tangan kirinya kedepan. Vic melihatnya agak bingung. Tiba-tiba sebuah bus besar bertingkat datang entah dari mana.
"Teddy...kau serius mau naik bus ini?" Vic tampak cemas.
"Ya, kenapa tidak?" Ted tersenyum jahil. Si kondektur bus, Stan Shunpike yang pernah ditangkap karena diduga pelahap maut nyengir.
"Kalian mau kemana?" Tanya Stan.
"Prancis." Jawab Ted dengan mantap.
"Ini gila Teddy!" Kata Vic
"Tidak, aku tidak gila. Ayo cepat bawa kami ke Prancis."
Stan Shunpike masuk kedalam bus dan berbisik-bisik dengan Ernie Prank sang supir Bus Ksatria.
"Bagaimana? Kalian sanggup membawa kami ke Prancis?" Tanya Ted.
"Baiklah, tapi kalian sendiri ya yang akan menanggung akibatnya."
"Oke"
"Ayo naik cepat!" Kata Stan. Victoire ragu masuk ke dalam bus, namun Teddy meyakinkannya. Setelah itu Ernie langsung tancap gas dan mengemudikan bus seperti orang gila.
Perjalanan panjang itu membuat Vic kepayahan dia menjerit-jerit setiap bus itu mengerem lalu tancap gas lagi. Teddy terus memeluknya.
"Tujuan kalian rumah keluarga Delacour?" Tanya Stan tiba-tiba."
"Ya!" Teddy menjawab.
"Sebentar lagi sampai. Ayo siap-siap."
Teddy mengandeng Vic turun ke bawah. Bus mendecit dan berhenti dengan hentakan keras. Di depan mereka sebuah rumah megah bergaya khas Prancis berdiri anggun. Victoire dan Teddy turun dari bus.
"Ini rumah Grandma...." Ucap Vic. Teddy mengangguk mantap lalu berkata "Ayo kita masuk!"
"Tunggu Ted." Vic menahan langkah Teddy.
"Ada apa?"
"Itu" tunjuk Vic. Seorang penyihir mengacungkan tongkat sihirnya ke arah mereka. Dialah Lucas Fitzgerald sang laki-laki pilihan Grandma. Siap menantang Teddy Lupin berduel untuk mendapatkan Victoire Weasley.
*****

kelinci

berawal dari ketidak sengajaan. haha. asalnya tahun lalu bokap gue beli satu kelinci berwarna cokelat buat di potong untuk acara bakar-bakaran tahun baru 2010. tapi karena bokap gue beli nya waktu bulan oktober, pas tahun barunya gue udah terlanjur sayang sama itu kelinci. dan akhirnya ga jadi lah itu kelinci di potong. haha selamat lah nyawamu itu.

bokap gue beli lagi 2 kelinci kecil berwarna abu dan putih totol ga lama kemudian. maksudnya biar kelinci coklat ada temen aja gitu ga sendirian. dan dua kelinci itu nakal banget, sering kabur-kaburan. sampai-sampai hansip kompleks nemuin kelinci yg dikira kelinci gue yg kabur pdhl mah ada dirumah. haha.  akhirnya ada 4 ekor dirumah.

eh taunya kelinci berwarna putih totol coklat yang dapet nemu ga mau makan dan akhirnya sakit, dan nular ke kelinci putih totol hitam dirumah karena disatuin di kandang yang sama. dan akhirnya kelinci putih totol hitam mati :'( gue sedih.

dua hari kemudian, waktu gue pulang sekolah, gue langsung nengkok kelinci-kelinci gue, sekalian mau ngasih makan. jeng jeng, eh kok aneh yah? kelinci yang coklat tergeletak seperti tak bernyawa dikandang, gue langsung buru-buru tengok, dan memang benar kelinci itu mati :'( inalilahiwainailaihi rajiun. gue nangis, bingung harus ngapain. bokap  sama abang2 gue pada ga ada lagi, semuanya lagi pada keluar kota. dirumah tinggal gue sama nyokap.dan sayangnya nyokap gue ga suka binatang, tinggal gue lah sendiri yg bertindak. gue ambil cangkul (alil profesi jadi tukang gali kubur) gue gali tu lubang di belakang rumah, ga terlalu dalem sih soalnya gue ga bisa ngegali (hehe) gue ambil tu kelinci abis itu langsung gue kuburin balik. dan gue nangis gara2 udah dua kelinci mati. gue ga mau kelinci gue semuanya mati yaudah yg tinggal 2 gue rawat baik2. hehe

(continue)